Rabu, Juni 04, 2008

SEMUA TTG FPI & AKKBB

Berikut adalah kumpulan judul artikel tentang kasus FPI & AKK-BB :
1. Terbukti Bawa Pistol, AKK-BB Dianggap Siap Rusuh
2. Semua, Dianggap Bermula dari Petisi
3. TPM: Insiden Monas Akibat Provokasi AKKBB
4. Korlap AKK-BB: Dasar Binatang-binatang!
5. AKKBB Memfitnah, Munarman Klarifikasi Foto Dirinya
6. Hasyim Ancam Provokator yang Kompori NU dalam Konflik FPI
7. Jangan Hanya FPI, Polisi Juga Harus Sikat AKKBB
8. PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi Ahmadiyah
9. INSIDEN MONAS DAN PECAH BELAH ALA RAND CORPORATION

Terbukti Bawa Pistol, AKK-BB Dianggap Siap Rusuh

Seorang anggota AKK-BB tertangkap kamera FPI membawa senjata api dalam insiden Monas, Ahad, (1/6), siang kemarin. AKK-BB dianggap siap rusuh.
Hidayatullah.com–Seorang anggota AKK-BB tertangkap kamera membawa pistol, dalam insiden Monas, Ahad, (1/6), siang kemarin. Seorang lelaki pendukung Ahmadiyah tersebut terekam handycam seorang anggota FPI yang tergabung dalam Komando Laskar Islam (KLI). Munarman, Panglima KLI, menyimpulkan AKK-BB memang sudah siap untuk kerusuhan. Di samping itu, mereka juga telah menjadikan anak-anak dan perempuan sebagai tameng untuk mendiskreditkan umat Islam yang mendesak pembubaran Ahmadiyah.
Dalam acara jumpa pers di Markas FPI itu, Munarman juga meluruskan sejumlah pemberitaan media massa tentang insiden Monas kemarin. Diantaranya tentang fitnah adanya anak-anak dan perempuan yang dipukuli dan dilecehkan secara seksual.
“Pernyataan pihak AKK-BB (Syafii Anwar) adalah fitnah. Tidak ada buktinya. Ratna Sarumpaet yang paling jahanam saja tidak kita sentuh sama sekali,” ujar Munarman yang juga Ketua Tim Advokasi FUI ini.
Gambar anak laki-laki dalam insiden Monas yang dimunculkan di televisi ternyata juga bukan dari AKK-BB, melainkan anak dari Ustadz Tubagus Sidiq, seorang anggota LKI.
Pada kesempatan itu, Munarman juga mengatakan, bahwa yang melakukan pembubaran aksi AKK-BB kemarin bukan atas nama FPI, melainkan KLI. Komando Laskar Islam katanya, adalah kumpulan dari laskar ormas Islam yang mempunyai laskar.
Ditambahkan, kedatangannya KLI kemarin, untuk memenuhi undangan terbuka yang disiarkan AKK-BB lewat iklan petisi di sejumlah koran nasional pekan kemarin.
[sur/www.hidayatullah.com; Senin, 02 Juni 2008]


Semua, Dianggap Bermula dari Petisi

Pantauan hidayatullah.com di lapangan saat aksi bentrok terjadi, karena emosi sebagian umat Islam atas “provokasi” iklan Petisi yang sebelumnya dimuat di beberapa koran.
Hidayatullah.com–Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pantauan hidayatullah.com di lapangan saat peristiwa terjadi akibat emosi massa yang terprovokasi oleh aksi-aksi sebelumnya yang dilakukan kalangan liberal dan AKK-BB. Diantaranya munculnya iklan Petisi dukungan terhadap Ahmadiyah. Iklan Petisi bertajuk, “Mari Pertahankan Indonesia Kita!” yang dimuat di beberapa media massa itu memunculkan nama-nama tokoh pendukung. Diantaranya; A. RAHMAN TOLLENG , A. SYAFII MAARIF (Maarif Institute), Abdul Moqsith Ghazali (JIL), Abdul Munir Mulkhan (UIN), Ade Armando (Majalah Madinah), Adnan Buyung Nasution, Agus Hamonangan (Kompas), para aktivis JIL lain seperti; Ahmad Baso, Ahmad Fuad Fanani . Ahmad Nurcholish . Ahmad Sahal . Ahmad Suaedi . Ahmad Taufik . Ahmad Tohari dan Akmal Nasery Basral. Juga nama-nama lain seperti; Albertus Patty, Amien Rais, Anand Krishna, Andreas Harsono, Asmara Nababan (PDI), Ayu Utami, Azyumardi Azra dan Bachtiar Effendy.
Juga nama Christianto Wibisono, Daniel Dakhidae (Kompas), Fikri Jufri (Tempo), Gadis Arivia, Goenawan Mohamad, Gusti Ratu Hemas, Hamid Basyaib (JIL), Ihsan Ali-Fauzi, Indra J. Piliang, Jajang C. Noer, Julia Suryakusuma (aktifis feminis), Kautsar Azhari Noer, KH. Husein Muhammad (JIL), Imam Ghazali Said (dosen IAIN Surabaya), Lies Marcoes-Natsir, Luthfi Assyaukanie (JIL), M. Dawam Rahardjo, M. Guntur Romli (JIL), M. Syafi’I Anwar (ICIP), Marsilam Simanjuntak, Moeslim Abdurrahman dan Siti Musdah Mulia (ICRP).
Nong Darol Mahmada (JIL), Novriantoni (JIL), Rieke Dyah Pitaloka, Rizal Mallarangeng, Syamsurizal Panggabean, Toriq Hadad, Uli Parulian Sihombing, Ulil Abshar-Abdalla (JIL), Usman Hamid (Kontras), Wardah Hafiz (pegiat feminisme), Yenni Rosa Damayanti, Yenny Zannuba Wahid, Yudi Latif, Zainun Kamal (UIN), juga Zuhairi Misrawi (JIL).
Nama-nama ini, oleh massa elemen Islam, sebagaimana pemantauan hidayatullah.com di lapangan, dianggap telah memancing emosi massa karena dianggap membela Ahmadiyah. Di sisi lain, melaui iklan Petisi nya di berbagai Koran, mereka juga telah menyalahkan kalangan Islam sebagai biang kekerasan.
[Surya/cha/www.hidayatullah.com; Senin, 02 Juni 2008 )


TPM: Insiden Monas Akibat Provokasi AKKBB

JAKARTA, SELASA- Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) Mahendradatta mengatakan, insiden bentrokan antara massa Komando Laskar Islam dengan pendukung Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di kawasan Monas, Minggu (1/6), disebabkan provokasi yang dilakukan sejumlah orator dari AKKBB. “Dalam orasinya, AKKBB melakukan orasi provokasi dengan mengatakan Front Pembela Islam (FPI) sebagai Laskar Kafir, Laskar Setan dan sebagainya,” katanya di Markas FPI, Jl Petamburan III Jakarta, Senin (2/6) malam, usai mendampingi jajaran pengurus FPI menerima sejumlah petugas kepolisian Polda Metro Jaya.Menurut dia, provokasi melalui orasi-orasi tersebut menunjukkan bahwa insiden bentrokan tersebut terjadi karena adanya “rekayasa” yang sengaja dilakukan AKKBB terhadap FPI.
Untuk itu, katanya, pada Selasa (3/6) sekitar pukul 10.00 WIB, TPM akan mendampingi sejumlah pengurus FPI akan mendatangi Polda Metro Jaya untuk memberikan bukti-bukti adanya kesalahan-kesalahan yang dilakukan AKKBB.
Mahendradatta juga menyebut sejumlah kesalahan yang dilakukan AKKBB yakni aksi yang dilakukan AKKBB adalah ilegal dan tidak memiliki izin. Kesalahan fatal yang dibuat AKKBB, menurut Mahendradatta, adalah adanya temuan bahwa salah seorang pendukung AKKBB kedapatan membawa senjata api.
Terkait kedatangan sejumlah aparat Polda Metro Jaya ke Markas FPI, ia mengatakan, hal itu merupakan bagian dari penyelidikan yang dilakukan terkait dengan insiden bentrokan di Monas.
Sementara itu, hingga Senin malam, Markas FPI di kawasan Petamburan tampak dijaga oleh puluhan warga yang sebelumnya mendengar kabar bahwa markas tersebut akan diserang oleh sekelompok massa. Namun, hingga berita ini diturunkan, isu penyerangan tersebut tidak terjadi.
(Kompas online : Selasa, 3 Juni 2008 | 01:35 WIB)


Korlap AKK-BB: Dasar Binatang-binatang!

Kesal “diserbu”, Saidiman, seorang Koordinator Lapangan (Korlap) aksi AKK-BB sebut elemen Islam sebagai “Islam anjing!”
Hidayatullah.com– Korlap aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Saidiman, cuma bisa mengumpat kesal. Pasalnya, Apel Akbar pembelaan terhadap Ahmadiyah yang dirancangnya sejak tengah bulan Mei lalu diobarak-abrik massa yang diduga dari Front Pembela Islam tepat di bawah tugu Monas, Ahad, (1/6), kemarin.
Rencana Saidiman berantakan, 15 orangnya luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit. Sekitar seratusan massa Ahmadiyah yang sengaja didatangkan dari Cirebon dengan dua Bus AC antar provinsi pun terpaksa balik kanan. Sedang puluhan sisanya, yang terdiri dari aktivis dan seniman liberal, seperti Wahid Institute, ICRP, JAI, dsb, mengungsi di Galeri Nasional, di seberang Stasiun Gambir, sekitar setengah kilo meter dari lokasi bentrok.
Entah karena kesal atau sengaja, ia mengeluarkan kata-kata tidak pantas yang bisa memancing emosi umat Islam.
“Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing,” ketus aktivis Komunitas Utan Kayu ini kesal.
Namun sejak mengetahui dirinya berasa disamping wartawan hidayatullah.com, Saidiman buru-buru pergi dan masuk ke mobil bersama teman-temannya menuju Polda Metro Jaya, untuk melaporkan insiden yang dialaminya.
Sementara di tempat evakuasi, nampak juru bicara JAI, Mubarik Ahmad, bersama rekan-rekannya tampak sibuk mengulas bentrokan yang baru saja terjadi. Sesekali, cercaan keluar dari mulut mereka.
Kepada hidayatullah.com, Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Tapi dia mengaku enggan untuk membatalakan rencana aksinya. “Sudah terlanjur. Nggak mungkin mundur dong,” ucap pria berbadan besar penuh berewok ini.
Saat insiden terjadi, Mubarik baru saja memarkir sepeda motor trail warna kuning merek Hyosung B 6438 IB miliknya di bahu jalan, seberang digelarnya aksi AKKBB.
Melihat massa yang diduga FPI yang datang tiba-tiba dari arah pintu barat Monas, dia hanya tertegun. Kamera yang terkalung di lehernya tidak dijepret barang sekali pun. Sementara massa AKK-BB berhamburan, sebagiannya jadi bulan-bulanan FPI.
Salah seorang dari massa AKK-BB menyalamatkan diri ala aktor film laga, dengan melompat bergelantung di jendela mobil patroli polisi yang melaju untuk membubarkan bentrokan. Sementara massa FPI tetap mencecar dan menombak-nombak pria tadi dengan bambu.
Di seberang, Mubarik masih tertegun. Kemudian kembali ke sepeda motornya untuk meninggalkan lokasi. Ketika hidayatullah.com menghampiri dan menanyakan hendak kemana dirinya, Mubarik hanya melengos. Sepeda motornya dipacu.
[Surya/cha/www.hidayatullah.com; Senin, 02 Juni 2008]


AKKBB Memfitnah, Munarman Klarifikasi Foto Dirinya

Yang Dipegang Munarman, Anggota FPI
HTI-Press — Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) melakukan fitnah yang kejam terhadap Munarman SH. Mereka menyebar foto yang menggambarkan seolah-olah Munarman mencekik anggota mereka. Fakta ternyata lain. Orang yang seolah dicekik itu ternyata adalah anggota FPI bernama Ponco alias Ucok Nasrullah. Munarman melakukan itu justru untuk mencegah Ponco agar tidak melakukan aksi anarkis.
Fakta ini terungkap dalam jumpa pers di Markas FPI Petamburan Jakarta Barat, pagi ini. Ponco pun hadir dalam jumpa pers itu dengan pakaian yang sama persis digunakan seperti terekam di foto.
Karena itu, Munarman meminta Goenawan Moehammad dan Wahid Institut segera meminta maaf atas fitnah tersebut. Sebab foto-foto itu telah disebarluaskan oleh mereka dan dimuat di Harian Indopos, detikcom, dan Koran Tempo. Bila dalam waktu 1×24 jam tidak meminta maaf, pihaknya akan mengambil tindakan hukum. (emje)

Munarman Klarifikasi Foto Dirinya
FPI membantah bahwa foto yang disebar AKKBB ke berbagai media itu adalah photo Munarman, Panglima Komando Laskar Islam yang sedang mencekik salah seorang anggota AKKBB. Photo itu, menurut FPI, sengaja disebar oleh AKKBB untuk memfitnah Munarman dan FPI.
“Pemuda yang ada di foto itu adalah Ponco antau Ucok Nasrullah, anggota Laskar FPI asal Tangerang,” ujar Eka Jaya. Kata Eka, saat itu Ponco sedang dilerai Munarman karena melakukan tindakan di luar batas dan di luar perintahnya. Munarman marah dan mengingatkan Ponco dengan menariknya, sehingga seolah sedang mencekiknya.
Munarman juga membantahnya. “Ini adalah fitnah. Saya dituduh mencekik seorang anggota AKKBB. Padahal itu adalah anak buah saya sendiri, supaya dia tidak anarkis,” kata Munarman di markas FPI, Jalan Petamburan 3, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Munarman berencana akan menuntut Tempo dan AKKBB yang telah menampilkan foto tersebut.
[abu ziad/LI]


Hasyim Ancam Provokator yang Kompori NU dalam Konflik FPI

Jakarta - Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengingatkan pihak-pihak tertentu untuk tidak melibatkan NU menyusul insiden Monas 1 Juni. “NU akan memberikan sanksi kepada siapa pun yang melakukan provokasi,” tegasnya. Hasyim menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujar Ketua PBNU Hasyim Muzadi dalam pernyataan tertulis pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
Maka, di sini ada pelibatan orang-orang NU yang menjadikan NU sebagai pihak yang juga terlibat dalam bentrok fisik itu. “Ini tidak boleh terjadi dan harus dicegah. Bentrok fisik sangat merugikan. Kita ingin menyelesaikan masalah Monas, bukan memperluas masalah itu,” tegasnya.
Hasyim menuturkan, semua keputusan PBNU yang menyangkut masalah akidah (keyakinan beragama), menyangkut syariah (hukum agama), hanya bisa dikeluarkan melalui rapat gabungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU.
“Maka, tidak boleh ada seorang pun yang mengambil alih porsi ini, kemudian dia berwacana sendiri atas nama NU,” ungkapnya.
Setelah peristiwa Monas banyak yang berwacana, menggiring GP Ansor, menggiring Pagar Nusa, menggiring Lakpesdam NU. Menurutnya, tidak ada hak apa pun untuk melakukan itu.
“Dan, saya ingatkan kepada yang bersangkutan supaya menghentikan langkah-langkah, karena justru NU akan memberikan sanksi kepada siapa pun yang melakukan provokasi, bukan kepada yang terprovokasi,” ancam Hasyim.
Hasyim menuturkan, memang ada personal di dalam NU yang berpikiran liberal. Sementara, NU formal berpikiran moderat. Moderat, artinya, baik kepada orang tapi tetap pada pendiriannya. Liberal, artinya, mengikuti mindset orang lain, tapi kadang-kadang menjadikan tindakan itu sebagai ‘gol bunuh diri’. Dan, NU jangan diumpankan untuk bentrok-bentrok fisik.
“PBNU menyerukan agar warga NU se-Indonesia tetap pada pos dan kediamannya (tetap tenang dan tidak terprovokasi) masing-masing. Masalah yang berkaitan dengan Monas akan diselesaikan sendiri oleh PBNU tanpa melibatkan bentrok fisik,” demikian Hasyim Muzadi.
(detikcom; 03/06/2008 15:22 WIB)


Jangan Hanya FPI, Polisi Juga Harus Sikat AKKBB

Jakarta - Polisi jangan hanya menjadikan anggota FPI sebagai tersangka dalam kasus penyerbuan di Monas. Namun harus juga menindak massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang ikut memprovokasi massa FPI.”Ini yang dinamakan sebagai suatu bentuk kausalitas. Apa yang dilakukan oleh FPI karena dipancing pihak yang lainnya. Polisi harus memberi perhatian seperti itu,” ujar Rudi Satrio, pengamat hukum dari Universitas Indonesia (UI), pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
Rudi menilai, agaknya AKKBB sengaja untuk tidak memahami situasi yang ada. Sebab, sebelumnya berbagai penolakan terhadap Ahmadiyah cukup deras disampaikan. “Mestinya mereka mengerti, bicara soal agama itu sangat sensitif,” ujar Rudi.
Menurut Rudi, yang harus diminta pertanggungjawabannya adalah pencetus ide untuk melakukan aksi AKKBB di Monas. Sebab, aksi yang mereka lakukan berdekatan dengan aksi FPI dan ormas Islam lainnya yang melakukan aksi unjuk rasa BBM. “Mereka (AKKBB) telah memprovokasinya. Maka wajar jika si korban (AKKBB) diminta pertanggungjawabannya juga,” tutur Rudi.
“Anda (AKKBB) memancing masalah. Ini yang harus menjadi diperhatikan aparat penegak hukum,” kata Rudi.
Dia meminta polisi juga harus fair dalam menangangi perkara ini. Jangan hanya karena FPI saat ini mendapat serangan dari berbagai pihak, lalu polisi tidak bertindak adil terhadap FPI.
(Detik.com ; 03/06/2008 08:50 WIB )


PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi Ahmadiyah

Jakarta - Bagaimana PBNU, ormas Islam terbesar di Tanah Air memandang rusuh Monas 1 Juni? Mereka berpandangan, baik FPI maupun AKKBB, keliru memaknai Ahmadiyah. “Kelompok yang berada di Monas (FPI dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan/AKKBB) keliru meletakkan konotasi Ahmadiyah ini, sehingga mereka mengatakan bahwa Ahmadiyah ini adalah masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan,” kata Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
Hasyim menuturkan, sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi ada masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.
Menurutnya, kalau Ahmadiyah lahir sebagai agama tersendiri, itu tidak masalah. Tapi kalau dia (Ahmadiyah) mengaku Islam, lalu nabinya ada dua, itu masalah dalam konteks ke-Islam-an, tidak dalam konteks agamanya (Ahmadiyah).
“Saya kira, dalam agama lain pun demikian. Misal, jika ada orang Kristen dan saya orang Islam, tentu ia harus rela, karena hal itu adalah masalah kebebasan beragama. Tapi, jika ada orang Kristen mengaku orang Kristen, tapi salibnya tidak ada Yesus-nya, tapi gambar orang lain, dia tersinggung enggak? Berarti itu adalah penodaan terhadap intern Kristen sendiri,” beber Hasyim.
Jadi, imbuh Hasyim, ini adalah masalah meletakkan Ahmadiyah dalam konteks kebebasan beragama, padahal ini konteksnya adalah pembelokan dari agama tertentu. Lain kalau dia (Ahmadiyah) sebagai agama sendiri, itu malah bebas, dalam konteks konstitusi Indonesia.
“Jadi, hendaknya dibedakan antara kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan masalah penodaan terhadap agama tertentu. Lalu, terjadi kekaburan atas dua hal yang saya sebutkan tadi,” ungkapnya.
Hasyim juga menyatakan, pihak yang menyerang telah melakukan kesalahan di mana kekerasan dilakukan tanpa prosedur hukum yang berlaku. Apa pun alasannya, hal itu tidak dapat dibenarkan di dalam negara hukum seperti Indonesia ini.
Pemerintah sendiri, lanjut Hasyim, sampai hari ini lebih banyak berwacana daripada melakukan tindakan prevensi dan represi. Prevensi artinya mencegah agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Represi agar bisa menekan mereka gerakan yang bertentangan dengan hukum negara.
(Detik.com ; 03/06/2008 14:42 WIB)


INSIDEN MONAS DAN PECAH BELAH ALA RAND CORPORATION

(CIVIL DEMOCRATIC SILAM , PARTERS ,RESOURCES, AND STRATEGIES; Cheryl Benard)
Adanya politik adu domba di balik insiden Monas semakin menguat. Pernyataan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengingatkan pihak-pihak tertentu untuk tidak melibatkan NU menyusul insiden Monas 1 Juni. “NU akan memberikan sanksi kepada siapa pun yang melakukan provokasi,” tegasnya.
Hasyim menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah ini. “Karena relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban itu adalah orang NU?” ujar Ketua PBNU Hasyim Muzadi dalam pernyataan tertulis pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
KH Hasyim Muzadi juga mengingatkan pelibatan orang-orang NU yang menjadikan NU sebagai pihak yang juga terlibat dalam bentrok fisik itu. “Ini tidak boleh terjadi dan harus dicegah. Bentrok fisik sangat merugikan. Kita ingin menyelesaikan masalah Monas, bukan memperluas masalah itu,” tegasnya.
Upaya mengadu domba antara NU dan ormas Islam lain seperti FPI memang sangat terasa. Tampak dari reaksi warga NU diberbagai daerah yang mendatangi markas FPI. Konflik horizontal pun dikhawatirkan meluas di daerah-daerah.
Tidak hanya itu , perluasan insiden Monas juga tampak dari upaya membangun opini seakan-akan lasyar Islam menyerang kelompok memperingati hari kesaktian Pancasila. Serangan ini dianggap ancaman terhadap Pancasila, ideologi negara, dan pada gilirannya dianggap merupakan ancaman terhadap negara.
Upaya adu domba yang konflik horisontal ini tidak bisa dilepaskan dari grand-strategi negara-negara Imperialis untuk menghancurkan umat Islam dan kekuatan Islam. Untuk itu, negara-negara Imperialis seperti AS memanfaatkan LSM-LSM komprador yang menjadi kaki tangannya untuk memprovokasi konflik.
Campur tangan asing tampak dari kecaman kedubes AS terhadap insiden Monas. Kedubes AS di Indonesia mengeluarkan siaran pers yang mengutuk aksi kekerasan oleh FPI. AS menilai, aksi itu berdampak serius bagi kebebasan beragama dan dapat menimbulkan masalah keamanan. Namun, pernyataan Kedubes AS itu dinilai anggota Fraksi PKS di DPR, Soeripto, sebagai bentuk campur tangan AS dalam masalah dalam negeri. ”Itu tidak etis. Bahasa kasarnya intervensi. Seakan-akan pemerintah kita yang lemah,” katanya.
Grands strategi ini bisa terlihat dengan jelas dari rekomendasi Rand Corporation yang merupakan think-thank neo-conservative AS yang banyak mendukung kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi Cheryl Benard dari Rand Corporation yang berjudul CIVIL DEMOCRATIC SILAM , PARTERS ,RESOURCES, AND STRATEGIES) secara detik diungkap upaya untuk memecah belah umat Islam.

STRATEGI : PECAH BELAH KELOMPOK ISLAM
Langkah pertama melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi.
Pertama : Kelompok Fundamentalis : menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.
Kedua : Kelompok Tradisionalis: ingin suatu masyarakat yang konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.
Ketiga : Kelompok Modernis : ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.
Keempat : Kelompok Sekularis : ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan antara agama dan negaradengan cara seperti yang dilakukan negara-negara demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.

STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA
Setelah membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan antara NU yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang Barat sering disebut Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau MMI
Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya :
Pertama : Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis)
 Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi.
 Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda.
 Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam.
 Memberikan mereka suatu platform publik
 Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.
 Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan “counterculture” bagi kaum muda Islam yang tidak puas.
 Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.
 Membantu dalam membangun organisasi-organisasi sipil yang independent, untuk
 Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka.

Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists: Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain :
 Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.
 Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.
 Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan
 Kaum modernis.
 Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka
 untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis
 secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik „Islam pinggiran” yang kabur . Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.
 Menambah kehadiran dan profil kaum modernis pada lembaga-lembaga tradisionalis.
 Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda. Mendorong orang-orang dengan ketertarikan yang lebih besar atas modernisme, seperti pada Mazhab Hanafi, lawan yang lainnya. Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham Wahhabi yang terbelakang. Hal ini berkaitan dengan pendanaan. Uang dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab Hambali yang konservatif. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian dari Dunia Islam yang lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan tafsir dari Hukum Islam.
 Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme

Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain :
 Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak akuratannya.
 Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktiviats illegal.
 Mengumumkan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
 Menunjukkan ketidak mampuan mereka untuk memerintah, untuk mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.
 Mengamanatkan pesan-pesan ini kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.
 Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.
 Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.
 Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.

Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler:
 Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama, mematahkan aliansi
 dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideology kiri.
 Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa Hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya. Pendekatan manapun atau kombinasi pendekatan manapun yang diambil, kami sarankan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja dan secara hati-hati, dengan mengetahui beban simbolis dari isu-isu yang pasti; konsekuensi dari penyesuaian ini bagi pelaku-pelaku Islam lain, termasuk resiko mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang kita berusahah bantu; dan kesempatan biaya-biaya dan konsekuensi afiliasi yang tidak diinginkan dan pengawasan yang tampaknya pas buat mereka dalam jangka pendek.

Tidak ada komentar: