Nggak cuma itu, dengan ditemukannya dunia maya, kini game juga bisa dimainkan lintas
Tapi buat kamu yang udah menyandang sebutan gamer, nyadar nggak sih sebetulnya video game itu juga menyimpan efek negatif? Nah, kalo belum tahu itu yang mau kita omongin di gaulislam edisi kali ini.
Hukum main video game
Yang namanya permainan pastinya diciptakan untuk menghibur. Ya, kalo pikiran udah mampet, badan terasa letih, manusia manapun pastinya butuh hiburan. Baik untuk mengalihkan kesibukan atau melepaskan ketegangan. Itulah tujuan permainan, ajang relaksasi/istirahat bagi kita.
Nah, soal menghibur diri, sudah diberikan aturannya oleh agama. Mencari hiburan buat seorang muslim adalah boleh/mubah selama dengan yang halal. Tapi kalau sudah menghibur diri dengan yang haram ya jelas haram dong.
Ya, kalo hidup ini diisi dengan keseriusan melulu, atau malah ibadah melulu, kalbu manusia bisa mencapai titik jenuh. Lama-lama orang bisa stres. Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah berkata, “Hiburlah hatimu sekadarnya, sebab hati itu apabila lelah ia menjadi buta.”
Mengenai permainan dan hiburan ini para ulama membagi menjadi dua macam. Pertama, hiburan dan permainan yang haram, seperti berjudi, tari-tarian erotis dan dibawakan oleh pria dan wanita di muka umum, juga nyanyian yang berlirik merusak agama, dsb.
Kedua, hiburan dan permainan yang boleh (mubah), seperti olahraga, nyanyian dengan lirik yang sopan juga tarian yang dibawakan di hadapan mahram atau suami, bepergian dengan keluarga (tamasya), dsb.
Imam Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat jilid II hlm. 195 berkata: “Hiburan, permainan dan keadaan yang kosong dari kesibukan/santai, jika tidak terdapat suatu hal yang terlarang adalah mubah/boleh.” Lebih lanjut beliau berkata lagi, “Namun demikian hal ini tercela dan tidak disukai oleh para ulama, bahkan mereka tidak menyukai seseorang yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia maupun tempat kembali di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan hasil duniawi atau ukhrawi. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dengan sanad shahih, ‘Setiap permainan di dunia ini adalah batil, kecuali tiga hal; memanah, menjinakkan kuda, dan bercanda dengan istri …’” Yang dimaksud batil di sini adalah sia-sia atau tidak berguna.
Bermain video game ya boleh-boleh saja. Selama tujuannya untuk menghibur diri. Lagipula bermain itu memang memberikan manfaat lho buat kita. Dalam buku Game-Mania yang kebetulan saya tulis, saya mencantumkan pendapat para pakar mengenai manfaat permainan video game ini. Menurut Antropolog UGM Dr Heddy Shri Ahimsa-Putra permainan berteknologi tinggi seperti halnya permainan elektronik, pada dasarnya tidak bersifat negatif. ‘’Permainan elektronik seperti video game dan permainan sejenisnya, pada dasarnya tidak bersifat negatif. Masalahnya, dalam permainan itu si anak diajak bermain lebih baik, untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Jadi sifatnya, lebih pada memberikan tantangan,’’ jelasnya. Wah, girang banget deh para gamer.
Pakar pendidikan anak-anak dan remaja, Kak Seto Mulyadi juga berpendapat bahwa beberapa game juga melatih kemampuan anak mengatur strategi dan taktik.
Sst, ada bahayanya juga
Guyz, apapun di dunia ini kalau udah overdosis pastinya berbahaya. Kebanyakan makan bikin perut sakit, kebanyakan minum bikin perut kembung, dsb. Nah, kebanyakan main video game juga sama berbahaya. Ternyata banyak penelitian yang menunjukkan ancaman video game terhadap kesehatan seorang gamer yang udah kecanduan.Dalam buku Game-Mania dituliskan sejumlah gangguan kesehatan yang mengancam para gamer kalo udah kecanduan. Di antaranya:
Pertama, sindrom pada tangan. Pernah ngerasa pegel-pegel pada jari dan tangan sehabis main video game? Sering? Ati-ati, brur!
Kedua, nyakitin otak. Wacks! Siapa sih yang mau otaknya rusak? Emang nggak ada yang mau, tapi kenyataannya video game bisa merusak otak. Satu penelitian di Inggris menunjukkan bahwa permainan video game dapat mempengaruhi komposisi sekresi dopamin di otak. Perubahan ini diduga terkait dengan tingkat kepekaan otak dalam merespon sejumlah input rangsangan syaraf. Dari analisa terhadap citra hasil pemindaian scanning otak yang dilakukan oleh Dr Paul M. Grasby dan koleganya di Hammersmith Hospital dan Imperial College of Medicine, London, menjejak adanya aktivitas yang memacu pelepasan dopamine. Dopamine adalah satu senyawa kimia yang bertanggungjawab dengan masalah koordinasi gerak dan kegiatan nalar. Oya, kecanduan main game juga bisa memicu penyakit schizophrenia dan depresi, lho. Mau kena schizophrenia? Iy, amit-amit!
Ketiga, merusak mata. Wah, ini sih untuk nakut-nakutin anak kecil! Suer, ini serius! Bukan cuma untuk nakut-nakutin. Boleh aja para gamer yang udah kecanduan nggak percaya. Tapi simak dulu penuturan DR. Tjahjono Darminto Gondhowiardjo, Dr., Sp.M., Kepala Bagian/KSMF Ilmu Penyakit Mata FKUI/RSCM.
Dijelaskan oleh beliau bahwa pada mata yang normal, bayangan benda dari tempat yang jauh akan jatuh dalam titik fokus tanpa mata perlu kerja. Mata kita baru perlu kerja kalau melihat dekat. Soalnya bila melihat dari jarak dekat, bayangan benda akan jatuh di belakang retina atau syaraf mata.
“Nah, sekarang kalau kita melihat video game, di
Apanya yang beda? Satu, jaraknya. Dengan jarak yang demikian dekat, berarti mata harus bekerja berat. Dua, coba bandingkan kerja mata kita antara main video game dengan membaca koran atau buku. Waktu membaca
Tiga, soal kecepatan. Pergerakan pada layar video game itu diatur oleh kecepatan komputer atau mesinnya. Makin cepat mesin bergerak, makin cepat mata si anak harus mengejar. Tak pelak lagi, matanya tidak pernah punya kesempatan untuk istirahat. Dari jarak dekat, mata si anak terus bekerja, melirik ke kiri dan ke kanan. Begitu pun tangannya, aktif memencet tombol.
“Bila dibandingkan orang dewasa yang kerja biasa misalnya membaca atau menulis, maka mata anak-anak itu (para gamer) bekerja dua setengah hingga empat kali lebih berat,” papar dosen teladan ke II dalam seleksi yang diadakan FKUI pada tahun 1995 ini.
Nah, gimana masih sayang nggak sama badan sendiri? Main gim boleh-boleh saja, tapi kalau sampai tangan kena sindrom, otak jadi schizofrenia, en mata jadi cape, pikir-pikir lagi. Seorang remaja muslim yang oke, pastinya sayang sama badannya sendiri. Inget lho, badan kita cuma satu-satunya.
So, bukannya kagak boleh main video game. Tapi inget kesehatan, bro! Sebagai peringatan terakhir, ada seorang cowok asal Korea Selatan, 38 tahun, tewas akibat kelelahan setelah main game di internet selama 10 hari nonstop. Menurut polisi, laki-laki itu bermain sepanjang hari dari pagi hingga malam dan bahkan sering melewatkan waktu tidur (Koran Tempo, 15/12/2005). Ck,ck, ck. Jadi, bukan cuma putaw aja yang bisa bikin orang ‘lewat’ kalau OD (overdosis), video game juga bisa bisa ‘membunuh’ orang.
Selain menimbulkan gangguan kesehatan, main video game yang mencapai level overdosis juga menimbulkan efek antisosial. Iyalah, seorang gamer yang udah addicted pastinya malas keluar rumah, ogah ketemu keluarga, belajar jadi loyo. Banyak lho karyawan yang kerjanya amburadul gara-gara kecanduan main game baik di PC ataupun konsol macam PS.
Yang juga kudu diwaspadi, nggak sedikit game yang muatannya antisosial seperti kekerasan dan pornografi. Tahun lalu pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa mem-banned/melarang peredaran game bertitel Manhunt 2. Ini game konon isinya mengumbar sadisme. Dan masih banyak lagi game-game baik untuk konsol ataupun PC yang peredarannya diawasi ketat oleh sejumlah negara, baik karena mengumbar sadisme, pornografi atau rasialisme.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar