SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
Menuju Pemikiran Yang Tercerahkan... Jiwa Yang Tak Terabaikan... Aqidah Yang Tak Terkotori...
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
![]()
Alhamdulillah, sudah selayaknya kita banyak bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah berhasil melewati hari-hari Ramadhan hingga memasuki bagian akhir bulan yang penuh berkah ini. Sebentar lagi kita pun akan menyambut satu hari yang indah, Idul Fitri. Namun, kita pun sepatutnya banyak beristigfar, karena boleh jadi—meski ini jelas tidak kita harapkan—ibadah shaum pada hari-hari Ramadhan yang kita lewati itu tidak mengantarkan kita untuk meraih derajat takwa sebagai hikmah dari kewajiban puasa yang telah Allah titahkan kepada kita.
Karena itu, sebelum Ramadhan benar-benar meninggalkan kita, dan Idul Fitri hadir di tengah-tengah kita, sejatinya kita banyak bertafakur dan melakukan muhâsabah (instrospeksi diri): Layakkah kita bergembira merayakan Idul Fitri, yang sering dimaknai sebagai ‘kembali ke fitrah’ dan juga sebagai ‘hari kemenangan’? Pertanyaan ini penting kita jawab dengan jujur, agar kita meninggalkan bulan Ramadhan ini tanpa kesia-siaan serta merayakan Idul Fitri nanti tanpa kehampaan.
Kembali ke Fitrah
Idul Fitri sering diterjemahkan sebagai ‘kembali ke fitrah’. Secara bahasa, fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabî‘ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. pada manusia. (Jamaluddin al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/151; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, III/463).
Karena itu, secara bahasa Idul Fitri bisa diterjemahkan sebagai ‘kembali ke naluri/pembawaan yang asli’. Di antara naluri/pembawaan manusia yang asli adalah adanya naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) pada dirinya. Dengan naluri ini, setiap manusia pasti merasakan dirinya serba lemah, serba kurang dan serba tidak berdaya sehingga ia membutuhkan Zat Yang Mahaagung, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan. Karena itulah, secara fitrah, manusia akan selalu membutuhkan agama yang menuntun dirinya melakukan penyembahan (‘ibâdah) terhadap Tuhannya dengan benar. Itulah Islam sebagai satu-satunya agama dari Allah, Tuhan yang sebenarnya. Konsekuensinya, sesuai dengan fitrahnya pula, manusia sejatinya senantiasa mendudukkan dirinya sebagai hamba di hadapan Tuhannya, Allah SWT, Pencipta manusia.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa kembali ke fitrah—sebagai esensi dari Idul Fitri—adalah kembalinya manusia ke jatidirinya yang asli sebagai seorang hamba di hadapan Allah sebagai Tuhannya. Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, seorang Muslim yang mengklaim sebagai hamba Allah mesti menyadari bahwa: (1) apa yang ada pada dirinya bukanlah miliknya, tetapi milik Allah; (2) tunduk, patuh dan tidak pernah membantah setiap perintah Allah; (3) tidak membuat aturan sendiri kecuali aturan yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.
Membuang Sekularisme: Wujud Kembali ke Fitrah
Dengan memaknai kembali ke fitrah sebagai ‘kembali pada kesadaran sejati sebagai seorang hamba’, sudah sepatutnya kaum Muslim yang ber-Idul Fitri membuang jauh-jauh sekularisme. Mengapa? Sebab, sekularisme justru menjauhkan diri manusia dari kedudukannya sebagai seorang hamba Allah. Bahkan sekularisme menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan.
Pasalnya, sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang hanya mengakui Tuhan dari sisi eksistensi (keberadaan)-Nya saja, tidak mengakui otoritas (kewenangan)-Nya untuk mengatur manusia. Dengan kata lain, sekularisme hanya mengakui keberadaan agama, tetapi menolak kewenangan agama untuk mengatur kehidupan. Dalam pandangan sekularisme, hak mengatur manusia atau hak membuat aturan bagi kehidupan manusia mutlak ada pada manusia itu sendiri, bukan pada Tuhan/agama. Hak ini kemudian mereka wujudkan dalam demokrasi, yang menempatkan kedaulatan manusia (kedaulatan rakyat) di atas kedaulatan Tuhan.
Dari sini lahirlah ideologi Kapitalisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Saat ini, justru Kapitalismelah—dan bukan Islam—yang diterapkan di tengah-tengah kehidupan umat Islam saat ini, termasuk di negeri ini.
Padahal fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, kerusakan dan kekacauan. Itulah yang terjadi saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada manusia (rakyat) melalui mekanisme demokrasi. Mahabenar Allah yang berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).
Karena itu, perayaan Idul Fitri—yang dimaknai sebagai kembali ke fitrah itu—sudah sepatutnya dijadikan momentum untuk membuang sekularisme, yang memang telah menjauhkan manusia dari fitrahnya yang hakiki sebagai hamba Allah.
Hari Kemenangan
Idul Fitri juga sering disebut sebagai hari kemenangan. Artinya, kaum Muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah shaum selama Ramadhan dianggap sebagai kaum yang meraih kemenangan. Persoalannya, shaum seperti apa yang bisa mengantarkan kaum Muslim menjadi kaum yang menang? Tentu shaum yang berkualitas, sebagaimana yang dilakoni oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat. Shaum Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak hanya memberikan kemenangan kepada diri mereka secara individual dalam melawan hawa nafsu dan setan selama bulan Ramadhan, tetapi juga memberikan kemenangan kepada kaum Muslim secara kolektif dalam melawan musuh-musuh Islam. Mereka dan generasi gemilang sesudahnya justru sering mencatat prestasi gemilang pada bulan Ramadhan. Beberapa peperangan yang dimenangkan kaum Muslim seperti Perang Badar, Fath Makkah (Penaklukan Makkah) atau Pembebasan Andalusia terjadi pada bulan Ramadhan.
Kemenangan Perang Badar telah memperkuat posisi kaum Muslim di dunia internasional saat itu, terutama di Jazirah Arab; bahwa negara baru yang dibangun kaum Muslim, Daulah Islam, adalah negara kuat yang tidak bisa disepelekan. Kondisi ini tentu memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara Daulah Islam.
Bandingkan dengan kondisi kaum Muslim saat ini. Negeri-negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa negara kecil yang lemah. Kondisi ini membuat musuh-musuh Allah dengan gampang dan sombong membantai dan membunuh kaum Muslim serta mengekspolitasi kekayaan alamnya dengan rakus; tanpa ada pelindung sama sekali.
Perang Badar juga secara internal telah membuat pihak-pihak di dalam negeri Daulah Islam—orang-orang Yahudi, musyrik dan munafik—takut untuk berbuat macam-macam terhadap Daulah Islam. Bandingkan dengan keberadaan orang-orang kafir dan antek-antek Barat saat-saat ini di Dunia Islam. Mereka berbuat makar dan kekejian seenaknya. Di negeri-negeri Islam, orang-orang kafir yang didukung oleh para penguasa yang menjadi antek-antek penjajah, membuat berbagai kebijakan yang merugikan rakyat dengan bebasnya.
Futûhât juga telah memberikan kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia. Lewat futûhât ini dakwah Islam diterima dengan mudah oleh manusia. Futûhât ini juga telah menjadi jalan bagi diterapkannya syariah Islam di seluruh kawasan dunia. Lewat penerapan syariah Islam inilah seluruh warga negera Daulah Islam, baik Muslim maupun non-Muslim, mendapat kebahagian, kesejahteraan dan keamanan. Peradaban Islam pun kemudian menjadi peradaban unggul.
Karena itu, ada beberapa hal yang wajib kita teladani dari shaum generasi Sahabat ini.
Pertama: para Sahabat tidak hanya melakukan tadarus al-Quran (baik di bulan Ramadhan maupun di luar itu), tetapi juga mengamalkannya. Sebab, para Sahabat memahami bahwa membaca al-Quran adalah sunnah, sementara menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka adalah wajib. Mereka sangat menyadari bahwa al-Quran harus menjadi dasar konstitusi kaum Muslim.
Kedua: para Sahabat tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah; tidak berdusta, tidak berbuat batil, tidak membuat kerusakan dan tentu saja tidak berhukum pada selain hukum Allah Swt. Mereka tidak seperti kaum Muslim saat ini, yang justru masih berhukum pada perundang-undangan dan sistem kufur yang bersumber dari sekularisme.
Ketiga: para Sahabat telah nyata-nyata menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat. Tobat mereka adalah tawbah nasûhâ, tobat yang sebenar-benarnya. Seharusnya saat ini pun kaum Muslim, yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat, tidak lagi melakukan maksiat meski Ramadhan telah berlalu. Maksiat terbesar yang harus segera ditinggalkan kaum Muslim saat ini adalah ketika mereka tidak menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan akibat ketiadaan Daulah Khilafah Islam di tengah-tengah mereka. Ketiadaan Daulah Khilafah juga berarti umat ini tidak memiliki pelindung dari musuh-musuh Allah.
Karena itu, dalam momentum Idul Fitri ini, yang berarti kembali ke fitrah, sudah selayaknya kaum Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syariah)—yang memang sesuai dengan fitrah manusia—dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan kufur yang berasal dari sekularisme, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia, dan terbukti banyak menyengsarakan umat manusia.
Karena itu, pada Hari Kemenangan ini, sudah sepatutnya pula kita berjanji kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim untuk mengerahkan segenap upaya, secara damai, demi tegaknya Khilafah dan syariah Islam. Kita memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar menolong kita untuk mewujudkan hal ini sehingga kaum Muslim merasakan kegembiraan yang hakiki karena meraih kemenangan yang juga hakiki, sebagaimana digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُون بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah kaum Mukmin karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (QS ar-Rum [30]: 4-5).
[]
KOMENTAR:
21 Tewas Saat Pembagiaan Zakat (Kompas, 16 September 2008)
Innalillâhi wa inna ilayhi raâji’ûn. Allahumaghfir lahum warhamhum wa ‘âfihim wa’fu ’anhum.

HTI-Press. Sidang pengadilan kasus Munarman dan Habib Rizieq kembali digelar hari ini, Kamis (25/09/08). Sementara di luar sidang terjadi bentrokan akibat provokasi dari massa AKKBB. Kembali upaya memecah belah kelompok Islam, antara Banser dengan FPI. Menurut Habib Rizieq, ada preman-preman yang disewa berpakaian banser sejak pagi sudah nongkrong sambil merokok.
“Guntur menyewa preman-preman yang berpakaian Banser sejak pagi sudah nongkrong, sambil merokok. Preman ini bukan Islam. Jadi kita buktikan ini orang yang ingin memancing-mancing. Kejar juga orang-orang yang di belakang mereka seperti Adnan Buyung,” papar Habib Rizieq.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam jumpa pers di Masjid PN Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, Jakarta Pusat, Kamis (25/9/2008), menyikapi bentrokan di depan PN Jakarta Pusat antara massa FPI dengan AKKBB. Habib Rizieq tampak didampingi Komandan Laskar Islam Munarman.
“Kami akan melaporkan Guntur Romli karena anarkis, adu domba, fitnah dan upaya pembunuhan terhadap murid-murid saya. Jadi saya minta pihak kepolisian untuk mengejar mereka,” kata Habib Rizieq.
Habib Rizieq mengaku bingung atas ulah aktivis AKKBB Guntur Romli yang sengaja memancing keributan. Rizieq bercerita, Guntur bersama preman yang dilengkapi senjata tajam datang ke PN Jakarta Pusat lalu menghina etnis anggota FPI. Bahkan Guntur Romli sempat mengeluarkan ancaman akan membunuhnya.
“Dia menunjuk salah satu murid saya yang keturunan Arab, namanya Ali. Dia dicaci maki, dihina etniknya dan diancam akan dibunuh,” katanya.
Kejadian bermula, ketika pada jam istirahat Sholat Dzuhur salah satu anggota FPI Habib Ali Al-Hamid yang secara rutin mengikuti perkembangan persidangan Habib Rizieq, memasuki halaman gedung PN Jakarta Pusat, dihampiri oleh Guntur Romli. Kemudian, Habib Ali menerima ancaman akan dibunuh, dam cacian yang menghinanya sebagai seorang keturunan etnis Arab.
“Orang yang bersama dia (Guntur Romli) menyenggol-nyenggol saya dan itu terjadi dihadapan aparat, saya tidak tahu tapi sempat terjadi dorong-dorongan antara saya dengan dia. Guntur Romli juga menuding-nuding saya, seolah-olah akan memancing emosi saya,” katanya saat berikan keterangan kepada pers, di Masjid PN Jakarta Pusat.
Untuk membuktikan omongannya soal senjata tajam, Rizieq lalu memanggil 3 anggota FPI yaitu Edo, Tommy, Junaedi. Salah satunya mengalami luka bekas sabetan senjata tajam.
“Telinga sebelah kanan kena clurit. Ada yang pipi sebelah kanan luka berdarah. Ada juga tangan sebelah kanan bengkak,” jelas Habib.***

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Yaa Allah, Yaa Rahman, inilah hamba-hambu-Mu, datang bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu. Inilah, yaa ‘Aziiz, makhluk-makhluk-Mu yang lemah dan tak berdaya, duduk di hadapan altar kemuliaan dan keagungan-Mu. Yaa Ghaani, inilah orang-orang fakir yang menundukkan kepala karena malu kepada-Mu, kini menengadahkan tangan-tangan kami untuk memohon belas kasih-Mu.
Yaa Allah, Yaa Rahman, yaa Rahiim. Kami semua hamba-hamba Mu yang lemah, datang memohon rahmat Mu. Sekalipun dengan tertatih-tatih, kami berupaya mendekatkan diri kepada-Mu, berharap kasih sayang-Mu. Setiap malam kami berusaha membaca al-Quran untuk memahami petunjuk-Mu. Setiap saat kami menyeru asma Agung-Mu. Semua itu, yaa Rahman, tak lain hanyalah untuk menggapai ridla Mu.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر 9×
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَ لاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ. وأُصَلِّيْ وَاُسَلِّمُ عَلَى الْقَائِدِ وَالْقُدْوَةِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ!
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Yaa Allah, Yaa Rahman, inilah hamba-hambu-Mu, datang bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu. Inilah, yaa ‘Aziiz, makhluk-makhluk-Mu yang lemah dan tak berdaya, duduk di hadapan altar kemuliaan dan keagungan-Mu. Yaa Ghaani, inilah orang-orang fakir yang menundukkan kepala karena malu kepada-Mu, kini menengadahkan tangan-tangan kami untuk memohon belas kasih-Mu.
Yaa Allah, Yaa Rahman, yaa Rahiim. Kami semua hamba-hamba Mu yang lemah, datang memohon rahmat Mu. Sekalipun dengan tertatih-tatih, kami berupaya mendekatkan diri kepada-Mu, berharap kasih sayang-Mu. Setiap malam kami berusaha membaca al-Quran untuk memahami petunjuk-Mu. Setiap saat kami menyeru asma Agung-Mu. Semua itu, yaa Rahman, tak lain hanyalah untuk menggapai ridla Mu.
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Hadirin yang dimuliakan Allah. Di bulan Ramadhan, kita semua merasa sangat berbahagia, tak terasa berlinang air mata, mengingat akan kealpaan, dosa, kelalaian, dan kemaksiatan diri. Inilah bulan tempat kita berkaca dan memperbaiki diri. Inilah Bulan penuh ampunan. Ampunan atas seluruh dosa kita sebelumnya, sehingga kita bagaikan manusia yang terlahir kembali. Subhanallah Allahu Akbar.
Ada getar keharuan dalam hati kita. Ramadhan yang penuh berkah, berlimpah rahmat, dan ampunan Allah, telah meninggalkan kita. Akankah kita bertemu dengan Ramadhan berikutnya? Wallahu a’lam. Kita tidak tahu.
Tapi ada pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan pada diri kita. Apa yang kita dapatkan melalui puasa kita sepanjang bulan Ramadhan kemarin? Benarkah kita menjadi makin bertakwa? Bila benar, mengapa semua itu tidak berkorelasi dengan upaya perbaikan kondisi masyarakat dan umat di sekitar kita? Kemiskinan tetap merajalela, korupsi makin menggila, penindasan tak kunjung reda, kerusakan moral, pornografi dan pornografi serta beragam bentuk kriminalitas makin tak terkira. Lihatlah apa yang terjadi di sekeliling kita. Hidup semakin terasa berat. Beban ekonomi dan sosial seolah tak tertahankan. Antri minyak di mana-mana. Sementara, segelintir orang bergelimang dalam kemewahan. Dengarlah pula jerit tangis saudara-saudara kita seiman di Palestina, Irak dan Afghanistan serta negeri lainnya. Mereka melewati bulan Ramadhan di tengah ancaman senjata. Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya serta kaum zionis tanpa henti terus menumpahkan darah, melecehkan kehormatan dan merampas kekayaan umat di sana. Sampai kapan semua ini akan berakhir?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,…!
Inilah sekilas wajah umat Islam saat ini. Umat yang disebut Allah sebagai khayra ummah, kini menjadi pecundang bukan pemenang, terpuruk di segala bidang. Mengapa semua ini terjadi? Jika kita meneliti dengan cermat, sesungguhnya penyebab utama dari keterpurukan umat Islam adalah pada fakta, bahwa umat Islam tidak lagi bersatu dalam satu kepemimpinan seorang Khalifah, dan kehidupan umat tidak diatur dengan aturan Islam tapi dengan sistem Kapitalisme Sekular. Aturan Allah SWT diabaikan. Padahal Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (TQS. Thaha[20]:124)
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Hadirin jamaah shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allah SWT
Kita akan lepas dari keterpurukan bila kita menanggalkan Kapitalisme dan kembali kepada syariah Islam. Kini Kapitalisme sedang menunggu kehancuran dirinya sendiri. Banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya:
Pertama, Kapitalisme melahirkan ketidakadilan (inequality) atau kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat. Tiga belas ribu keluarga terkaya di Amerika saat ini memiliki pendapatan yang sama dengan 20 juta orang penduduk paling miskin. Tiga belas ribu keluarga itu memiliki pendapatan 300 kali lipat dari pendapatan keluarga rata-rata. Di Indonesia, puluhan juta orang berpenghasilan kurang dari satu dollar atau sekitar Rp 9.200 per orang perhari. Tapi tidak sedikit orang yang untuk satu kali makan siangnya saja menghabiskan Rp 150.000.
Kedua, Kapitalisme adalah sistem yang menjajah. Kapitalisme dunia hanya dapat mempertahankan hidupnya lewat eksploitasi yang dilakukan atas Dunia Ketiga. Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, dijadikan sebagai daerah pinggiran (periphery) yang sangat bergantung pada, dan dieksploitasi oleh, kekuatan-kekuatan kapitalis negara-negara besar.
Ketiga, Kapitalisme yang secara teoritis memberikan kesempatan sama (equality of opportunity) kepada setiap anggota masyarakat, dalam kenyataannya bersifat diskirminatif, bahkan rasis. Hanya mereka yang dekat kepada pusat kekuasaan saja yang lebih banyak mendapatkan akses informasi, modal, dan kesempatan. Diskriminasi juga berlanjut di bidang hukum. Dengan kekuatan dana yang dimiliki, para pemilik modal mampu membeli hukum. Akhirnya proses hukum tidak berjalan sebagai mana mestinya atas mereka. Lepasnya para konglomerat hitam pengemplang dana ratusan triliun rupiah dana BLBI adalah bukti yang sangat nyata.
Keempat, semboyan Kapitalisme yang berupa “berproduksi untuk dapat berproduksi lebih besar” (to produce, to produce and to produce) menyebabkan keserakahan dan berkembangnya kehidupan yang materialistik. Akibat mementingkan produksi atas segala-galanya itu, kapitalisme pada umumnya merusak ekologi yang seharusnya dilestarikan. Polusi udara, sungai dan lautan, banjir dan longsor, sesungguhnya berasal dari keserakahan kapitalisme yang bernafsu menjalankan produksi tanpa batas.
Kelima, Kapitalisme menciptakan pola hidup konsumeris. Hal ini melahirkan “masyarakat pembosan” (throw-away society). Manusia-manusia dalam masyarakat kapitalis tidak ada yang betah bergaul dengan barang-barangnya dalam tempo relatif lama. Kecenderungan ini juga menghinggapi kehidupan perkawinan mereka dengan gonta ganti pasangan. Hasilnya, di Austria orang bisa berganti pasangan 30 kali dalam setahun. Angka perceraian pun tinggi (throw-away marriage), praktek pelacuran, pornografi dan porno aksi berkembang. Di AS berdasarkan angka statistik nasional, 1,3 perempuan diperkosa setiap menitnya, dan 1.872 perhari —683.280 pertahun (Islam the Choice of Thinking Women). Di Amerika diperkirakan setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dilakukan dengan bayaran uang yang telah disepakati kedua belah pihak.
Keenam, demi kepentingan ekonominya, kekuatan-kekuatan kapitalis selalu bersikap double-standard. Mereka bicara soal penentuan nasib sendiri dan demokrasi, tapi mereka mendukung penguasa diktator seperti Musharraf dan Karimov. Mereka berteriak tentang supremasi hukum dan perdamaian, namun faktanya mereka menjajah, menjarah dan membunuh di mana-mana. Di Irak saja lebih dari 650.000 jiwa dihabisi. Mereka seakan berbuat baik dengan menawarkan pemotongan hutang, tapi mereka menjerat leher dunia dengan IMF dan Bank Dunia. Mereka bicara pemberantasan korupsi, tetapi mereka menggelontorkan uang ratusan juta dollar kepada para penguasa di negeri-negeri Muslim untuk menelorkan undang-undang yang menguntungkan mereka. Mereka berbicara masalah HAM tapi mereka melakukan penyiksaan biadab di Guantanamo, Abu Ghraib, dan penjara-penjara rahasia.
Semua itu menunjukkan, bahwa Kapitalisme di bawah pimpinan AS dan negara-negara Kafir penjajah lainnya, telah kehilangan otoritas moralnya untuk memimpin dunia. Realitas itu pun menggambarkan bahwa peradaban Kapitalisme telah memasuki kemunduran yang permanen. Melihat bukti-bukti kerusakan itu, sudah semestinya kita menghentikan sekarang juga sistem rusak buatan manusia itu. Kita perlu pengganti. Tidak ada solusi alternatif kecuali syariah! Dan syariah itu diterapkan oleh Khilafah, karena Khilafah pula satu-satunya yang mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia.
Hadirin jamaah Rahimakumullah,
Bila demikian, nyatalah bahwa Kapitalisme itu sudah berada di ujung tanduk. Sebaliknya, Khilafah sudah ada di depan mata. Mengapa?
Pertama, bangkitnya kesadaran umat secara menyeluruh, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia; bahwa mereka miskin, lemah dan tidak berdaya, karena mereka tidak bersatu dan terjajah, atau belum merdeka. Karena itu, kesadaran untuk bangkit dan merdeka pun menyeruak di mana-mana. Kapitalisme global telah menjadi musuh bersama umat, bahkan bukan saja umat Islam, tetapi juga seluruh umat manusia.
Kedua, bangkitnya kesadaran umat Islam untuk kembali kepada agamanya. Ini bisa dilihat dari tingginya survei-survei yang dilakukan di negeri kaum Muslim, yang menggambarkan tingginya keinginan mereka untuk menerapkan syariah. Bahkan, mereka juga mendambakan kesatuan dunia Islam dalam satu negara Khilafah. Bukan hanya itu, maraknya syiar dan kegiatan keislaman yang dilakukan oleh seluruh kelompok umat Islam, bukan saja kalangan santri, tetapi juga berbagai kalangan lainnya.
Ketiga, bangkitnya sentimen umat anti penjajah, juga membawa kesadaran baru mereka terhadap para antek dan komprador penjajah yang selama ini menjadi kakitangan mereka. Lebih jauh, juga ditunjukkan dengan ketidakpercayaan umat untuk tidak memilih mereka dalam proses pemilu, yang ditunjukkan dengan tingginya angka golput di hampir seluruh Pilkada.
Pada sisi lain, Allah SWT telah berjanji kepada kita:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (TQS. An-Nur [24]: 55).
Dan, Rasulullah saw. pun bersabda:
«اِنَّ اللهَ زَوَى لِى الاَرْضَ فَرَاَيْتُهَا مَشَارِقَهَا وَ مَغَارِبَهَا وَ سَيَبْلُغُ مُلْكُ اُمَّتِى مَا زُوِيَ لِيْ مِنْهَا»
Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan kepadaku bumi ini hingga aku melihat ufuk timur dan ufuk baratnya. Dan kekuasaan umatku akan sampai pada apa yang telah diperlihatkan kepadaku. (HR. Muslim).
Kapitalisme sistem batil, sementara syariah dan Khilafah adalah sistem yang haq. Dan, sistem haq pasti akan menang. Bukankah Allah SWT berjanji:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ
Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya) (TQS. Al-Anbiya [21]:18).
Allahu Akbar (3x), wa lillahil hamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Kita adalah umat terbaik, sekali lagi umat terbaik, yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia. Kita adalah pengikut Rasulullah Saw, Nabi terakhir dan pemimpin para Rasul. Nenek moyang kita adalah para Khulafa’ Ar-Rasyidin, para panglima Mujahidin. Allah berjanji menolong siapa saja yang menolong-Nya, dan janji Allah pasti benar. Semua ini tidak hanya berlaku di Akhirat, tapi juga berlaku di Dunia, di mana kemenangan, keberhasilan, dan kebangkitan umat ini benar-benar akan terwujud kembali. Allah SWT berfirman:
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ ﴿٥١﴾
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (TQS. Ghafir [40]: 51)
Akhirnya, di hari yang mulia ini, setelah sebulan penuh kita membangun dan meningkatkan ketakwaan kita selama Ramadhan, yang penuh rahmah dan maghfirah, kami menyerukan kepada seluruh umat Islam, para pimpinan ormas, orpol, ulama, wakil rakyat, wartawan, anggota TNI/Polri, pejabat pemerintah, cendekiawan, usahawan dan serikat-serikat pekerja, serta para pemuda dan mahasiswa, untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan syariah Islam dan berjuang bersama bagi tegaknya Khilafah dan syariah secara kaffah, dan menempatkan perjuangan penegakan syariah sebagai agenda utama kaum Muslim. Sesungguhnya, penerapan syariah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara, merupakan kewajiban setiap Muslim, sekaligus merupakan wujud keberhasilan kita dalam meraih ketakwaan.
Semoga Allah SWT memberi kita kesabaran dan kekompakan, serta memungkinkan saudara untuk memainkan peran yang penting dalam menegakkan dan memperjuangkan datangnya negara Khilafah. Allah SWT berfirman:
فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظاً وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٦٤﴾
“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (TQS Yusuf [12: 64])
Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan iman dan semangat untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT. Serta mengelompokkan kita dalam golongan pejuang-pejuang Islam, yang berupaya mewujudkan Khilafah, yang mengikuti manhaj (metode) Nabi Saw. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT, dan kita berhasil meraih derajat takwa.
اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِاْلإيْماَنِ كاَمِلِيْنَ وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ وَلِلدَّعْوَةِ حَامِلِيْنَ وَبِاْلإِسْلاَمِ مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَلِلنِّعَمِ شاَكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صاَبِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلاَدَنَا هَذَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ سَخَاءً رَخاَءً، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَناَ سُوْأً فَاَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَمَنْ كَادَنَا فَكِدْهُ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ فِي تَدْبِيْرِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِيْ ضِمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفَظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.
اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ
وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ فَلَسْطِيْنِ وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَ الشَّيْشَانَ، وَ أَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا النَّارَ وَتُدْخِلْهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ. اَللَّهُمَّ اَيُّمَا عَبْدٍ اَوْ أَمَةٍ مِنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يُحِبُّنَا وَيَدْعُوْ لَنَا فَثَقِّلْ مِيْزَانَهُ وَحَقِّقْ اِيْمَانَهُ وَاجْعَلْهُ فِي الْجَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ اْلاَعْلَى. وَاَيُّمَا عَبْدٍ اَوْ اَمَةٍ مِنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَى خَطَأِ وَهُوَ يَظُنُّ اَنَّهُ عَلىَ الْحَقِّ فَرُدَّهُ اِلَى الْحَقِّ رُدًّا جَمِيْلاً. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا ِلإِخْوَانِناَ الْمُسْلِمِيْنَ حَيِّنِيْنَ لَيِّنِيْنَ سَهِّلِيْنَ حَبِيْبِيْنَ قَرِيْبِيْنَ. وَنَسْأَلُكَ اَنْ تَجْعَلَناَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُيَسِّرِيْنَ وَلاَ تَجْعَلَناَ مُعَسِّرِيْنَ وَمُنَفِّرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ اَبْصَارِنَا وَذِهَابَ أَحْزَانِنَا وَجَلأََ هُمُوْمِنَا، اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ أَطْرَافَ النَّهَارِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحِلُّوْنَ حَلاَلَهُ وَيُحَرِّمُوْنَ حَرَامَهُ وَيَتْلُوْنَ حَقَّ تِلاَوَتِهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا لَنَا فِي حَيَاتِنَا وَمُؤْنِسًا لَنَا فِي قُبُوْرِنَا وَحُجَجًا لَنَا مِنَ النَّارِ وَقَائِدًا لَنَا اِلَى الْجَنَّةِ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى نَاتِجَةً مِنْ صِيَامِنَا وَ اجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لإِقَامَتِهَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ
اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Oleh: Adnan Khan
HTI-Press. Selasa 09 September 2008. Sengketa antara AS dan Rusia pada yang dipicu oleh serbuan mendadak Georgia terhadap Ossetia Selatan, kembali mengangkat isu tentang keseimbangan kekuatan adidaya global. Runtuhnya Uni Soviet di tahun 1990 dianggap oleh kaum liberal sebagai saat bersejarah, dimana pemikir seperti Francis Fukuyama berkunjung ke seluruh pelosok dunia untuk mempromosikan bukunya “Akhir Sejarah dan Manusia Terakhir’, yang menjelaskan bahwa tidak ada lagi sengketa yang berarti antara Marxisme dan Pasar. Lebih jauh lagi, katanya, Demokrasi Liberal versi Barat telah menjadi ‘bentuk pemerintahan yang final bagi kemanusiaan.’ Untuk kaum liberal, kemenangan Amerika (AS) sebagai negara kapitalis yang dominan terhadap Uni Soviet sebagai wakil komunisme, menunjukkan superioritas Kapitalisme. Sejak itu, AS telah mengkonsolidasi kekuatannya sebagai negeri Adidaya yang tidak tersaingi dan kaum neokonservatifnya sempat membangun proyek “Abad Amerika Baru”, untuk memastikan berlanjutnya superioritas AS di masa mendatang.
Situasi Internasional
Keseimbangan kekuatan global atau situasi internasional adalah struktur hubungan antar negara di dunia. Ini adalah status adidaya dan negara-negara yang bersaing dengannya. Untuk memahami keseimbangan kekuatan global ini, tidak hanya memerlukan pengetahuan tentang negara mana saja yang berstatus adidaya, kebijakannya dan visi misinya, tetapi juga memerlukan pengetahuan hubungan internasional, yang selalu diwarnai persaingan antar sesama negara untuk mencapai status keadidayaan. Ini sebabnya situasi internasional tidaklah stabil dan selalu berubah. Maka analisa apapun terhadap keseimbangan kekuatan global adalah penjelasan terhadap situasi pada waktu tertentu, sehingga analisa tersebut menjadi bagian dari sejarah ketika situasi internasional kembali berubah.
Situasi internasional akan selalu dalam posisi dinamis karena ditentukan oleh kondisi ekonomi-politik beberapa negara dan tergantung dari situasi tertentu yang menyelimutinya. Perubahan situasi dan kondisi tejadi karena suatu negara bisa melemah atau menguat, atau karena hubungan dengan negara lain melemah atau menguat. Dalam hal ini, terjadinya perubahan keseimbangan kekuatan global disebabkan oleh pergeseran keseimbangan kekuatan yang terjadi sebelumnya. Ini sebabnya, memahami status setiap negara yang mempengaruhi situasi internasional adalah dasar untuk memahami keseimbangan kekuatan adidaya global.
Persaingan antar kekuatan dunia telah berlangsung sejak dahulu dan akan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dalam masa Mesir kuno yang diperintah oleh para Fir’aun, Mesir adalah negeri adidaya dan bersaing dengan Mesopotamia. Imperium Romawi menjadi negara adidaya dan Imperium Persia bersaing dengannya. Lalu, Daulah Khilafah menundukkan keduanya, Romawi dan Persia sekaligus, dan menjelma menjadi kekuatan adidaya hingga akhir abad ke-18, dan dalam perjalanan sejarahnya sempat berseteru melawan Mongol dan terlibat dalam Perang Salib.
Perancis dan Inggris bersaing dengan Khilafah Utsmaniyah selama hampir 3 abad hingga pertengahan abad-18. Menjelang Perang Dunia I, Jerman menggeser keseimbangan kekuatan global, dan menghadapi persaingan dari Inggris dan Perancis. Setelah Perang Dunia I, Inggris menjadi kekuatan global dan menghadapi persaingan Perancis. Tidak lama kemudian, Jerman menantang Inggris dan hanya berakhirnya Perang Dunia II yang telah menghentikan hegemoni Jerman. Usai Perang Dunia II, AS menjadi pemenang dan menjadi kekuatan adidaya, yang menghadapi persaingan dari Uni Soviet selama 50 tahun, hingga jatuhnya Soviet pada tahun 1990an. Percaturan Politik Antar-Bangsa (’Game of nations‘) Saat ini AS adalah negeri adidaya dunia, meski mulai melemah ia masih berpengaruh terhadap politik internasional. AS adalah ekonomi terbesar dunia, termaju dalam penguasaan teknologi mutakhir, dan memiliki pangkalan militer yang tersebar diseluruh dunia untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Namun, Amerika mulai menunjukkan kelemahannya dalam perang di Iraq dan Afganistan dan belum memberikan tanda-tanda perbaikan nasibnya. Dua perang tersebut berlangsung dalam waktu yang lebih lama ketimbang Perang Dunia Kedua. Militer AS yang ditopang kemajuan teknologi mutakhir dalam sejarah dunia, tidak mampu menundukkan musuh yang menggunakan senjata teknologi tahun 1960an. Akibatnya, AS sangat tergantung pada pemerintahan lokal untuk menghindari rasa malu. AS menghadapi banyak sekali tantangan di belahan dunia yang sempat ia dominasi hanya sepuluh tahun yang lalu. Di Timur Tengah, AS sempat menikmati dominasinya disana. Namun akhir-akhir ini AS menghadapi tantangan dari Cina dan Rusia dalam penguasaan minyak di Timur Tengah.
AS juga berkompetisi melawan India, Jepang, dan Uni Eropa untuk mendapatkan emas hitam ini. Bahkan Inggris sempat mengelabui proyek AS dengan alasan kerjasama. Graham Fuller, mantan ketua Konsili Intelijen Nasional menggambarkan nasib Amerika ketika ia menulis di majalah National Interest,” banyak negara telah menerapkan multi-strategi dan taktik untuk melemahkan, mengelabui, merubah, meningkatkan kompleksitas, dan membatasi serta menjegal agenda pemerintahan Bush dengan tikaman yang bertubi-tubi.”
Cengkeraman Amerika di Afrika juga mulai melemah dari manuver Inggris dan Cina, setelah berakhirnya periode dominasi AS disana selama beberapa dasawarsa. Inggris dibawah pimpinan Tony Blair menggagalkan usaha AS untuk melengserkan Presiden Kabbah, penguasa Sierra Lion. Inggris juga bekerja secara sistematis untuk menyelamatkan kekuasaan Rezim Ghaddafi dari pengaruh kaum neokonservatif Amerika yang menghendaki perubahan rezim paska kejadian September 911. Di Sudan, AS juga gagal untuk memisahkan Sudan Selatan karena Inggris dan Perancis berhasil menggunakan krisis Darfur untuk mempengaruhi Sudan. Di Afrika Selatan, Blair juga bersaing melawan AS untuk menyelamatkan kepentingan Inggris disana. AS juga menghadapi kemungkinan kegagalan bersaing dengan Cina dalam mengembangkan industri minyak di Afrika, yang telah memenangkan tidak kurang dari 100 kontrak yang bernilai 20 bilyun dolar yang bertujuan untuk memastikan stabilitas penyediaan
minyak.
Rusia dan Cina berkembang secara pesat tanpa mengikuti resep demokrasi liberal Barat. Sebaliknya, Rusia justru menantang AS secara terbuka. Misalnya, Rusia menancapkan benderanya di dataran es Antartika, men-tes bom secara masif, dan mempersengketakan sistem pertahanan misil AS di Eropa Timur. Rusia juga merebut kembali status adidayanya dengan dengan menguasai kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari pengaruh AS dan menghentikan tiga revolusi di negara-negara Asia Tengah. AS, setelah 20 tahun tidak memiliki saingan berarti, mulai menghadapi tantangan serius dari suatu negara (Rusia) yang menguasai ladang gas dan minyak bumi terbesar di dunia.
Perusahaan yang mampu bersaing dengan AS adalah Rusia, Inggris, Perancis, dan Jerman, dimana ke-empat negara tersebut memiliki ambisi internasional. Rusia dalam dekade terakhir berhasil menguasai sumber mineral dan menundukkan beberapa konglomerat yang sempat menguasai perekonomian Rusia sejak jatuhnya Uni Soviet. Dengan dibekali sumber energi yang luarbiasa, Rusia kini berada dalam fase untuk bersaing dalam meningkatkan teknologi militernya dalam menghadapi AS.
Inggris yang dalam sejarah sempat menjadi negara adidaya masih memiliki pengaruh pada bekas jajahannya. Inggris adalah salah satu pemain penting dalam politik Eropa dan sering menimbulkan kegelisahan pada AS atas kegagalan rencananya di Eropa. Perang Dunia II telah menghabiskan energi Inggris yang sempat melemahkan kedudukan internasionalnya. Pembuat kebijakan Inggris menyadari hal ini dan membangun manuver politik kerjasama ketimbang persaingan secara langsung dengan AS. Inggris melakukannya dengan cara bekerjasama dengan AS di wilayah internasional di satu sisi. Di sisi lain, Inggris membuat AS frustasi dalam usahanya mendominasi Eropa.
Perancis, selayaknya Inggris, adalah pemain penting lainnya dalam sejarah dan politik Eropa dan kebijakan Perancis diterapkan diseluruh bekas jajahannya dalam bentuk kekuatan budaya dan ekonomi sehingga mampu mempengaruhi Dunia. Perancis yang mendominasi Uni Eropa, berhasil menggunakannya untuk memajukan kepentingan Perancis. Dibawah pimpinan Nicolas Sarkozy, Perancis membangun pangkalan militer di Teluk dan bekerjasama dengan AS di Lebanon dan konflik Russia-Georgia.
Jerman adalah negara ketiga terbesar ekonomi dengan nilai 2,7 trilyun dolar dan menjadi ekonomi termaju di Eropa. Di tahun 2004, Jerman adalah eksportir terbesar dunia dengan nilai 912 bilyun dolar. Ekonomi Jerman juga melakukan ekspansi terutama di wilayah Eropa Timur, dengan penerapan sederet kebijakan ekonomi. Jerman juga melakukan peran penting dalam negosiasi pertukaran tawanan perang antara Israel dengan pejuang Hezbullah. Jerman juga menempatkan armada Angkatan Lautnya dalam invasi Israel di Lebanon pada tahun 2006, yaitu frigat Mecklenburg-Vorpommern dan Karlsruhe, yang didukung dengan helikopter, kapal logistik dan perahu patroli dengan kekuatan 1500 personil. Ini adalah penempatan militer terbesar Jerman sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Masalahnya, Jerman memandang dunia dari perspektif Uni Eropa, sedangkan Inggris dan Perancis menggunakan Uni Eropa untuk memajukan kepentingan nasional masing-masing.
Kekuatan yang sedang Naik Daun
China adalah salah satu negara yang bersaing melawan AS dan memiliki pengaruh yang cukup penting, namun Cina masih merupakan kekuatan lokal. Andai saja Cina tidak memiliki ambisi internasional yang sempit, Cina mungkin bisa bersaing melawan AS secara langsung. Hal ini mungkin saja terjadi dalam waktu dekat. Jepang adalah kekuatan ekonomi dengan jumlah besar di dunia setelah AS, akan tetapi Jepang tidak memiliki pengaruh selain pengaruh ekonomi. Kebijakan Jepang untuk turut serta dalam koalisi pendudukan Afganistan dan penghapusan pasal tentang sikap pasifisme dalam konstitusi Jepang sehingga mampu menempatkan pasukan diluar Jepang, sebenarnya adalah bentuk manuver AS untuk mengimbangi Cina. Pengaruh Jepang,tidak lain adalah kepanjangan tangan dominasi AS di Asia, dan bukan dari Jepang itu sendiri.
Di samping para negara adidaya, ada juga negara-negara yang memiliki pengaruh terbatas di wilayah masing-masing dan bersifat sesaat saja. India, misalnya, memiliki jumlah populasi dunia yang besar dan memiliki senjata bom nuklir dan memiliki potensi untuk berpengaruh di wilayah sekitarnya. Namun India tidak sehebat yang media promosikan dan masih terletak diposisi buncit dari daftar negara adidaya. Italia pun masih memiliki pengaruh di dunia, karena ia pernah menjadi negara adidaya sebelum Perang Dunia Kedua, meski hanya sesaat.
Kesimpulan
Inilah situasi keseimbangan kekuatan adidaya global yang bisa berubah sewaktu-waktu. Maka, memahami sejarah dari negara adidaya, bagaimana ia berkembang, kepercayaan dan nilai yang ia yakini, serta ideologi yang ia emban akan memudahkan seseorang untuk mengetahui motivasi dari negara tersebut. Negara-negara tersebut saling bersaing sesama mereka dan juga melawan AS. Situasi internasional ini juga bisa dipahami sebagai persaingan global sesama negara adidaya untuk mengamankan kepentingan mereka masing-masing.
Perlu diingat bahwa perubahan yang terjadi disetiap negara selalu bersifat dinamis, karena melalui berbagai perubahan, seperti naik turunnya kekuatan dan kelemahan, tingkat pengaruh diantara sesama negara, dan hubungan internasional diantara mereka. Itu sebabnya akan sulit untuk membuat konsep analisis yang permanen dalam memahami situasi internasional pada setiap masa karena keniscayaan perubahan. Akan tetapi, menganalisa situasi internasional dimungkinkan selama selalu mengingat bahwa situasi bisa berubah sewaktu-waktu. Begitu juga untuk menganalisa kekuatan adidaya negara tertentu bisa saja terjadi selama menyadari bahwa analisa tersebut bisa saja berubah.
Krisis perang di Iraq dan Afganistan telah menimbulkan keraguan terhadap kekuatan AS secara serius. AS terlihat sangat tergantung kepada negara lainnya, dan juga semakin rentan terhadap krisis di dalam negerinya sendiri. Bangkitnya Rusia menimbulkan tantangan serius terhadap AS, karena Rusia memiliki sumber daya energi yang bisa digunakan untuk menyandera Eropa. Di sisi lain, Cina masih terisolasi di wilayahnya, meskipun mulai menampakkan tanda-tanda untuk bersaing melawan AS, sebagaimana terjadi di Afrika. Meskipun demikian, Cina tidak memiliki sejarah atau merujuk ke ideologi tertentu yang mampu menghantarkannya ke tampuk adidaya yang bisa menguasai dunia. Demikian pula India, dimana India memberikan ancaman yang sangat tidak berarti dan ia masih disibukkan oleh perseteruan kaum nasionalis Hindu melawan kaum menengah ke atas yang pro Barat, sehingga visi dan misi negara tersebut masih tidak jelas.
Pemikir AS dan pembuat kebijakan di dunia Barat masih terus mengutip tuntutan terhadap tegaknya Shariah di dunia Islam sebagai bentuk ancaman jangka panjang yang akan dihadapi oleh AS. Intel AS memperkirakan bahwa Khilafah akan bangkit sekitar tahun 2020. Perang melawan teror pun semakin membuka kedok jatidiri perang sebenarnya, yaitu perang melawan Islam. Padahal umat Islam saat ini pun belum diwakili oleh suatu Khilafah. Maka, sebagai antisipasinya terhadap potensi bangkitnya Khilafah, mereka akan terus melancarkan perang ideologis untuk menundukkan pemikiran dan memenangkan perasaan umat Islam di seluruh dunia, sebelum Khilafah akan benar-benar menjadi kenyataan.***

HTI-Press. Pornografi lebih bahaya daripada narkoba. Hal ini diungkap Neng Jubaedah, aktivis Wanita Islam saat diwawancara kontributor Kantor Berita Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Sely Selviana usai Audiensi dan Sharing tentang RUU P, Sabtu ( 20/09/08), di Rumah Makan Mbok Berek, Tebet, Jakarta.
Neng menyayangkan ketidakpedulian masyarakat terhadap bahaya pornografi. “Sekarang banyak orang yang mengatakan perang pada narkoba, tapi tidak peduli pada kasus pornografi,” ujar Neng.
Ini dibuktikan betapa lambannya pemerintah mengeluarkan undang-undang untuk melarang pornografi. Menurut Neng, Rancangan Undang-Undang tentang pornografi sudah dibahas 10 tahun yang lalu. “Meski rencananya Rancangan Undang-Undang Pornografi akan disahkan akhir tahun ini, tapi jika kita melihat isinya ternyata ruhnya sudah berbeda jauh dengan ruh semula.”
Awalnya RUU ini berisikan semangat untuk melarang atau memberantas pornografi, tapi kini (yang akan disahkan) isinya hanyalah berupa pengaturan pornografi. Dengan kata lain, pornografi boleh-boleh saja asalkan dilakukan di tempat dan dengan cara khusus (pasal 13 ayat 2).
“Definisi pornografi sudah jauh dengan apa yang saya rancang dulu” ujar Neng yang juga ikut terlibat membuat rancangan awal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang kini berubah menjadi RUU Pornografi (RUU P).
Dalam RUU P, pornografi hanya didefinisikan sebagai materi seksualitas, padahal seksualitas cakupannya sangat sempit, yaitu seputar alat kelaminn saja. Seharusnya kata seksualitas diganti dengan sensualitas, karena seseorang akan bangkit birahinya bukan hanya karena melihat alat kelamin saja, tapi melihat hal-hal yang bersifat erotis.
“Oleh karenanya, sebelum RUU P ini disahkan kita harus bersikap kritis. Jangan menerima mentah-mentah karena isinya sangat jauh dari yang diharapkan,” tegas Neng.
Ketua Umum Forsap, Hj. Nurdiati Akma, M.Si mengatakan umat Islam sudah terlalu baik dengan membiarkan kata-kata anti dan pornoaksi dihapus dari RUU APP menjadi RUU P. “Sekarang kita tidak boleh membiarkan RUU ini disahkan tanpa refisi seperti yang kita inginkan,” ujar Nurdiati, M.Si.
Sebelum pornografi ini ada payung hukumnya, Nurdiati, M.Si menghimbau kepada para wanita, khususnya Muslimah untuk membentengi diri dengan pendidikan agama yang baik.
Hal senada juga diungkapkan kembali oleh Neng Jubaedah bahwa muslimah harus bisa membentengi diri dengan Islam dalam menghadapi globalisasi. Ketika ditanya bagaimana jika Indonesia ini diterapkan syariah Islam? “Oh..saya setuju sekali,” tandas Neng. (sly/mhti)

HTI-Press. Bagi kaum sekular dan liberal di Barat, peradaban Kapitalisme dianggap peradaban yang paling hebat. Francis Fukuyama, pemikir Amerika asal Jepang, bahkan mengklaim dengan hancurnya Komunisme awal 1990-an, bahwa peradaban Kapitalisme telah menjadi babak akhir sejarah (the end of history). (Usman, 2003: 43).
Apakah kehancuran Komunisme berarti kehebatan Kapitalisme? Nanti dulu. Mantan Presiden AS Richard Nixon sendiri tak begitu yakin akan kemampuan Kapitalisme. Dalam bukunya Seize the Moment, Nixon menceritakan pertemuannya dengan Presiden Soviet Kruschev. “Anak-cucumu nanti akan hidup di bawah naungan Komunisme,” kata Kruschev kepada Nixon. Lalu Nixon menjawab, “Justru anak-cucumu yang nanti akan hidup dalam kebebasan.” Nixon pun berkomentar, “Saat itu aku yakin apa yang dikatakan Kruschev salah, tetapi aku justru tak yakin dengan ucapanku sendiri.” (Usman, 2003:46).
Walhasil, keruntuhan Komunisme tidaklah otomatis menunjukkan bahwa Kapitalisme itu hebat. Sebab, sebenarnya Kapitalisme tak kalah rusaknya dengan Komunisme. Kerusakan Kapitalisme inilah yang dibongkar total oleh Hamad Fahmi Thabib (Abu al-Mu’tashim) dalam kitabnya, Hatmiyah Inhidam ar-Ra’sumaliyah al-Gharbiyah (Keniscayaan Runtuhnya Kapitalisme Barat). “Kerusakan adalah tanda awal kehancuran,” tegas beliau dalam kitabnya itu (h. 490). Kitab inilah yang akan kita telaah kali ini.
Hamad Fahmi Thabib adalah seorang ulama dan pemikir Hizbut Tahrir dari Baitul Maqdis, Palestina. Di tanah yang penuh berkah itulah beliau menulis kitabnya tersebut tahun 2004, dengan tebal 502 halaman. Thabib juga dikenal dengan karya-karya lainnya yang cemerlang dan visioner, yaitu kitab Al-Mu’âhadât fî asy-Syarî’ah al-Islâmiyah (Hukum Perjanjian dalam Syariah Islam) (2002), dan kitab Al-Khilâfah ar-Rasyîdah al-Maw’ûdah wa at-Tahaddiyât (Khilafah Rasyidah yang Telah Dijanjikan dan Tantangan-Tantangannya) (Jakarta: HTI Press), 2008.
Gambaran Isi Kitab
Thabib melihat dengan penuh keprihatinan bahwa umat manusia, terutama di Barat, kini tengah hidup menderita di bawah cengkeraman Kapitalisme. Dalam berbagai sistem kehidupannya, khususnya sistem politik, ekonomi, dan sosial, manusia gagal menikmati hidup yang sejahtera dan bahagia. Mereka mencari jalan menuju keselamatan (tharîq an-najâh), namun tak tahu harus melangkah ke mana.
Itulah yang melatarbelakangi Thabib menulis kitab ini. Dengan kitabnya ini, Thabib bertujuan untuk membongkar kerusakan kapitalisme-demokrasi dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial, serta menunjukkan bahwa tidak ada lagi jalan selamat kecuali kembali pada ideologi Islam. (h. 9).
Metode penulisan Thabib untuk mencapai tujuannya itu cukup sistematik. Thabib mengkritik lebih dulu asas peradaban Kapitalisme, yaitu ide sekularisme, sebelum mengkritik sistem-sistem kapitalis yang lahir dari asas itu, yaitu sistem politik, ekonomi, dan sosial. Thabib juga melakukan studi komparasi antara sistem-sistem kapitalis tersebut, dengan sistem-sistem selevel dalam Islam.
Berdasarkan metode itu, Thabib menjelaskan pikirannya dalam 3 (tiga) bab utama untuk menerangkan kerusakan Kapitalisme, yaitu: Pertama, kerusakan sistem politiknya (h. 67-258). Kedua, kerusakan sistem ekonominya (h. 259-375). Ketiga, kerusakan sistem sosialnya (h. 376-488). Pada masing-masing bab, setelah menerangkan kerusakannya, Thabib secara kontras langsung membandingkan dengan sistem Islam.
Sekularisme Sumber Kerusakan
Sebelum menerangkan kerusakan Kapitalisme dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial, Thabib lebih dulu menerangkan sumber kerusakannya. Ibarat pohon, Kapitalisme mempunyai akar tunggang yang menjadi sumber segala masalah, yaitu sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).
Sekularisme adalah paham rusak, karena tidak memuaskan akal dan tidak selaras dengan fitrah manusia (h. 30). Disebut tak memuaskan akal, karena sekularisme hanya jalan tengah (al-hall al-wasath) antara dua kutub ekstrem, yaitu ketundukan total pada dominasi Gereja di satu sisi dan penolakan total terhadap agama Katolik di sisi lain. Akhirnya, diambil jalan tengah sebagai hasil langkah pragmatis, bukan hasil proses berpikir yang masuk akal. Tunduk total pada Gereja tidak, menolak total agama Katolik juga tidak. Jadi agama tetap diakui keberadaannya, tetapi hanya berfungsi di Gereja, tidak boleh lagi berperan di sektor publik seperti politik, ekonomi, dan sosial sebagaimana di Abad Pertengahan (486–1453 M). Bangsa Eropa Kristen sudah kapok hidup terbelakang pada abad-abad kegelapan itu, ketika Gereja membunuh 300 ribu ilmuwan, 32 ribu di antaranya dibakar hidup-hidup. (h. 24).
Disebut tak sesuai fitrah, karena sekularisme telah menafikan naluri beragama (gharîzah tadayyun), sebagai bagian dari fitrah manusia. Padahal naluri beragama secara natural mengakui kelemahan dan ketidakmampuan diri dalam mengatur kehidupan. Thabib lalu menegaskan, “Kerusakan pada asas yang mendasari Kapitalisme Barat inilah yang membawa atau mengakibatkan rusaknya segala aspek kehidupan praktis manusia.” (h. 50).
Kerusakan Sistem Politik
Sistem politik Barat adalah sistem rusak, baik politik dalam negeri maupun luar negerinya. Kerusakannya ada pada dua aspek: Pertama, pada sistemnya secara normatif (fikriyah); Kedua, pada praktiknya secara empiris (amaliyah). Sumber kerusakannya terpulang pada ide sekularisme, yang melenyapkan aspek spiritual (nâhiyah rûhiyah) dalam politik dan hanya menonjolkan pertimbangan materi. (h. 69).
Politik dalam negeri Barat tampak dalam penerapan ide kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM). Penerapan ketiga ide ini boleh dibilang tidak ada, atau kalaupun ada, sangat banyak kekangannya. Kebebasan beragama tidak dinikmati umat Islam secara wajar di Barat, karena mereka sering dilarang atau dibatasi untuk memiliki masjid. Bahkan di Prancis Muslimah dilarang memakai kerudung. Kebebasan berperilaku juga banyak mengalami kekangan, misal ada UU yang melarang poligami (h. 80).
Mengenai demokrasi, faktanya kedaulatan bukanlah di tangan rakyat, melainkan di tangan pemilik modal. Untuk menjadi anggota Senat diperlukan biaya 427.117 dolar AS, dan untuk menduduki jabatan presiden perlu 500 miliar dolar AS (data 1989). Praktik HAM juga menjadi tanda tanya besar, karena dengan mekanisme pasar, hak dasar manusia (sandang, pangan, & papan), hanya dapat diakses oleh orang kaya, bukan orang miskin. (h. 96).
Politik luar negeri ala Kapitalisme juga penuh kerusakan. Thabib menjelaskan bahwa politik luar negeri kapitalis dibangun atas dasar imperialisme—dalam segala bentuknya—yang tak lepas dari karakter materialistik alias menghisap kekayaan. (h. 111). Imperialisme ini dapat berbentuk perang militer secara langsung untuk meraih hegemoni politik dan ekonomi, seperti yang dilancarkan AS di Panama, Irak, dan Afganistan. Imperialisme dapat pula berbentuk penjajahan ekonomi melalui penguasaan moneter dan utang jangka panjang untuk menancapkan dominasi politik dan politik atas negeri yang berhutang. Dapat pula imperialisme itu berbentuk pengendalian lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan segenap organisasinya, atau berbentuk penyebaran ide-ide yang menyesatkan seperti globalisasi, WTO, dan perdagangan bebas. (h. 121). Imperialisme juga dilaksanakan melalui kaum liberal kaki-tangan Barat untuk menyerang hukum-hukum Islam, seperti poligami, khitan perempuan, atau talak yang dianggap sebagai penindasan atas perempuan. (h. 126).
Setelah menerangkan kerusakan sistem politik Barat, Thabib kemudian menerangkan sistem politik yang benar, yaitu sistem politik Islam, baik politik dalam negeri maupun luar negerinya. (h. 166). Sistem politik Islam dibangun di atas dasar akidah islamiyah, sehingga berbagai aturannya akan bersifat spiritual (ruhiah), yaitu terkait dengan Allah Swt., terkait dengan pahala dan dosa. Sistem yang demikian akan menentukan makna kebahagiaan bagi individu. Orang akan bahagia saat merasa telah menaati Allah dan merasa mendapat pahala. Sebaliknya, orang akan merasa khawatir saat berbuat maksiat kepada Allah dan merasa mendapat dosa (h. 172).
Itu sangat berbeda dengan sistem politik kapitalis yang kosong dari aspek spiritual sehingga hanya mempertimbangkan aspek materi untuk menentukan bahagia-tidaknya seseorang. Faktanya, materi berlimpah tidak menjamin kebahagiaan. Thabib menceritakan kisah putra direktur perusahaan mobil Opel (Jerman). Sang putra mendapat limpahan harta yang tak terbatas. Sarapan pagi di Berlin, makan siang di Paris, dan makan malam di London. Menggunakan pakaian dan mobil terbaik. Teman perempuan bergonta-ganti. Tapi, dia merasa hampa dan akhirnya ditemukan mati bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Dia menulis surat, “Aku mengira kebahagiaan ada pada traveling (tamasya), tapi aku tak menemukannya. Aku pun mengira kebahagiaan ada pada perempuan, tapi aku pun tak mendapatkannya. Aku mengira kebahagiaan ada pada makanan dan minuman, tapi aku juga tak menemukannya. Mungkin aku dapat menemukan kebahagiaan di alam lain…” (h. 173).
Tujuan sistem politik Islam bukanlah untuk menghisap kekayaan, melainkan untuk beribadah kepada Allah Swt., di bawah pimpinan Khalifah. Sistem Khilafah inilah yang akan mewujudkan ketenteraman (thuma’ninah) dengan menjamin keamanan, jaminan kebutuhan pokok, dan keadilan di dalam negeri. (h. 173).
Politik luar negeri Islam dengan jihad fi sabilillah juga bukan bertujuan materi, tetapi bertujuan dakwah dan menerapkan Islam. Thabib membuktikan bahwa penduduk yang ditaklukkan melalui jihad akhirnya memeluk Islam secara sempurna seperti para penakluknya. Ini menujukkan hubungan yang baik antara penakluk dan yang ditaklukkan, karena adanya penerapan hukum Islam secara baik. Sejarah mengisahkan penaklukan Samarkand di Asia Tengah yang unik. Samarkand ditaklukkan secara militer tanpa didahului dakwah dan tawaran jizyah. Lalu penduduknya yang non-Muslim melakukan protes kepada hakim. Hakim memutuskan telah terjadi penyimpangan, lalu memerintahkan pasukan Islam untuk keluar dari Samarkand dan mengulang proses penaklukan. Pasukan Islam diharuskan lebih dulu mendakwahi penduduknya agar masuk Islam atau menawari mereka membayar jizyah. Melihat keputusan hakim yang adil, penduduk Samarkand malah masuk Islam (h. 226).
Kerusakan Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi Kapitalisme didasarkan pada asas kebebasan, meliputi kebebasan kepemilikan harta, kebebasan pengelolaan harta, dan kebebasan konsumsi. Asas kebebasan ini, menurut Thabib, tidak layak karena melanggar segala nilai moral dan spiritual. Bisnis prostitusi, misalnya, dianggap menguntungkan, meski jelas sangat melanggar nilai agama dan merusak institusi keluarga (h. 271).
Kerusakan sistem ekonomi Kapitalisme juga dapat dilihat dari berbagai institusi utama Kapitalisme, yaitu sistem perbankan, sistem perusahaan kapitalisme (PT) dan sistem uang kertas (fiat money). Berbagai krisis ekonomi dan moneter sering bersumber dari sistem-sistem tersebut (h. 277).
Sistem ekonomi Islam sangat bertolak belakang dengan sistem ekonomi Kapitalisme. Asasnya adalah wahyu yang selalu mengaitkan akidah Islam dengan hukum-hukum ekonomi. Jadi, barang dilihat dari segi halal dan haram, bukan dari segi bermanfaat atau tidak. Bisnis prostitusi yang dibolehkan Kapitalisme dianggap ilegal karena hukumnya haram dalam Islam (h. 300).
Islam juga menolak institusi utama Kapitalisme. Sistem perbankan ditolak karena ribawi, sistem perusahaan Kapitalisme ditolak karena bertentangan dengan hukum syirkah (perusahaan syariah), dan sistem uang kertas ditolak karena bertentangan dengan sistem moneter Islam yang berbasis emas dan perak (h. 333).
Kerusakan Sistem Sosial
Sistem sosial (nizhâm ijtimâ’i) di Barat juga penuh dengan kerusakan, karena asasnya adalah sekularisme. Akibatnya, interaksi pria wanita kering dari nilai sipiritual dan hanya didominasi pertimbangan materi semata (h. 375).
Sekularisme juga menyebabkan wanita hanya dianggap komoditas dagang dan pemuas nafsu laki-laki semata. Perselingkuhan dianggap “pertemanan”, cerai dilarang, tetapi poligami justru dianggap perbuatan kriminal (h. 379-388).
Sistem sosial yang bobrok seperti ini telah terbukti menghancurkan institusi keluarga, menyebarkan penyakit kelamin, menimbulkan kebejatan moral dan melahirkan anak-anak hasil zina (h. 398).
Sistem sosial Islam asasnya adalah akidah Islam yang selalu mengaitkan interaksi pria wanita dengan pahala dan dosa (h. 439). Wanita dianggap sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, juga sebagai kehormatan yang wajib dijaga. Perselingkuhan diharamkan, cerai dibolehkan, dan poligami tak dilarang.
Thabib berulang-ulang menegaskan, keruntuhan Kapitalisme akan terjadi cepat atau lambat, sebagaimana Sosialisme; karena asasnya telah rusak, demikian pula berbagai sistem kehidupan yang dibangun di atas asas itu. Hanya Islam saja yang menjadi jalan keselamatan (tharîq an-najâh) umat manusia, bukan yang lain. [KH. M. Shiddiq Al-Jawi]
Daftar Bacaan
Al-Basyr, Muhammad bin Saud. Amerika di Ambang Keruntuhan (As-Suqûth min ad-Dâkhil). Penerjemah Mustholah Maufur. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar). 1995.
Risen, James. Negara Haus Perang (State of War). Penerjemah Joko Subinarto. (Bandung: Zenit). 2007.
Shoelhi, Mohammad. Di Ambang Keruntuhan Amerika. (Jakarta: Grafindo Khazanah Islam). 2007.
Shutt, Harry. Runtuhnya Kapitalisme (The Decline of Capitalism). Penerjemah Hikmat Gumilar. (Jakarta: Teraju, 2005).
Usman, Muhammad Nuroddin. Menanti Detik-Detik Kematian Barat. (Solo: Era Intermedia). 2003.